Rabu, 18 Januari 2017

Perilaku Islam

Tags

1.      Pengertian perilaku Islami.
Perilaku islami adalah suata tindakan, baik itu melalui ucapan maupun perbutan yang terpuji serta baik yang sesuai dengan ajaran islam. Sehingga dapat dikatakan suatu tindakan buruk yang tidak sesuai dengan ajaran islam berarti bukan mencerminkan perilaku islami. Sedangkan orang yang berbuat baik namun orang lain memandang seorang itu buruk tapi dalam pandangan islam hal itu baik maka dapat dikatakan merupakan perilaku yang islami.
Orang orang yang mempunyai perilaku baik yang sesuai dengan ajaran islam maka akan senantiasa orang tersebut disukai oleh banyak orang, hanya segelintir yang iri kepadanya. Dan tentunya nanti di hari akhir akan dikumpulkan bersama orang orang baik pula.
Nabi Muhammad SAW diutus Allah Swt, kebumi ini meprioritaskan tentang penyempurnaan akhlak karena pada saat itu aklhak manusia kebanyakan jahiliyah. Dalam sabda beliau:
“sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”.
2.      Perilaku Islami.
Dibawah ini akan dipaparkan perilaku yang sepatutnya dilekatkan dalam jiwa muslim, karena perilaku yang dimaksud betul-betul ajaran islam.
A.    Beriman.
Manusia sebagai makhluk fisikal-biologis, maklhuk social, intelektual-psikologis, dan spiritual-teologis, dapat dikatakan sejahtera hidupnya apabila apa yang menjadi kebutuhan jasmani ndan ruhani terpenuhi secara seimbang. Ia sejahtera hidupnya jiga segala kebutuhan yang bersifat materi, kebutuhan jiwa yang berupa kedamaian dan kesentosaan, kebutuhan social yang berwujud kesentosaan, dan kebutuhan spiritual yang berupa ketentraman hati tercapai dengan seimbang.
Jadi iman merupakan persoalan hati, bukan persoalan jiwa. Akan tetapi apabila hati telah beriman, dalam arti segala yang disebutkan pilar keimanan telah menjadi milik hati., maka jiwa yang berada diluar kotak hati bisa juga disebut beriman, karena telah terpengaruhi oleh kemilaunya sinar keimanan yang terdapat dalam kotak hati.
B.     Tenang.
Kitab suci Al-quran, dalam berbagai ayatnya, mejelaskan tentang jiwa manusia yang meliputi tiga kategori.
1.      An-nafs al-ammarah, jiwa pada tingkatan ini merupakan keinginan rendah manusia yang cenderung memerintah atau mendorong manusia berbuat keburukan. Pada umumnya tindakan keburukan dilakukan oleh manusia disebabkan oleh dorongan atau keinginan rendah ini.
2.      An-nafs al-lawwamah seperti disebut dalam surah Al-qiyamah (75): 2. Jiwa kategori ini merupakan jiwa yang mencela natau menyalahkan diri sendiri. Jika orang menyimpang dari jalan yang benar yang digariskan Allah Swt dalam agama, seketika timbul rasa penyesalan dalam batinya.
3.      An-nafs al-muthma’innah (jiwa yang tenang). Disebutkan dalam surah Al-Fajr(89);27. Jiwa inilah yang merupakan jiwa yang dikecualikan di dalam firman-NYA, inna an-nafsa la’ammarat bi as-su’ illa ma rahima rabbi (sesungguhnya nafsu/keinginan rendah itu pastilah memerintah berbuat hal yang buruk, kecuali jiwa yang dirohmati tuhanku).
C.     Rela.
Kata rela berasal dari bahasa arab, ridha. Artinya, senang, suka cita, atau puas dalam menerima segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang apapun juga adalah bagian dari pemberian Allaah Swt. Semuanya terjadi atas anugerah Allah.
Dalam kehidupan ini, atas dasar keimanan yang mantap, terdapat orang-orang yang jiwanya rela (puas) menerima segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang apapun juga adalah pemberian dari Allah Swt. Semuanya terjadi atas anugerah dari Allah
D.    Sabar.
Jiwa yang sabar adlah jiwa yang dimiiki oleh orang yang sabar. Dalam Al-Quran Al-karim, Orang-orang sabar disebut ash-birin (orang yang sabar). Orang yang bersabar adalah orang yang melakoni hidup dan kehidupan dengan jiwa yang tidak tergesa gesa, gembira, dan senantiasa mengembalikannya kepada Allah yang pahalanya tanpa batas.
E.     Tawakal
Kata tawakal berasal dari Tawakkala-yatawakkalu-tawakkulan, yakni tawakkal sebutan yang benar seharusnya tawakkul, bukan tawakkal. Akan tetapi yang lebih familiyar adalah tawakkal. Tawakkal dpat diartiakan menyandarkan segala urusan ataupun masalah yang menyangkut segala aspek kehidupan ke pada Allah SWT saja.
F.      Jujur
Jujur artinya, lurus hati, tidak curang dan disegani. Jadi dapat dikatan jujur adalah suatu tindakan yang dibenarkan sesuai dengan kenyataan yang ada, berbuat yang sebenarnya, sesuai dengan kata hatinya,
G.    Amanah
Kata amanah berasal dari amina-ya’manu-amana-wa amanatan, yang secara harfiah berarti aman. Jadi dapat dikatakan amanah adalah orang yang memegang suatu kepercayaan dari orang lain dengan tidak mengingkari ataupun menyalahgunakanya dalam berbagai hal yang dapat merusak kepercayaan dari orang yang member kepercayaan.
Jiwa yang amanah menurut konsep Al Quran adalah jiwa yang tidak hanya jujur, tetapi juga teguh untuk mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya, serta menyadari segala amanah yang diterimanya berasal dari Allah Swt.[1]
H.    Syukur



[1] Rifa’i Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, (Jakarta:SInar Grfika Offset), hal. 55-91

Shodaqah dan Infaq

Tags

1.      Pengertian Shadaqah dan Infaq
Shadaqah berasal dari bahasa arab ”Shadaqah”  yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara sponton dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Dan dapat pula diartikan pemberian sesuatu oleh seseorang kepada orang lain tanpa bayaran dengan maksud untuk mengharapkan balasan dar Allah SWT berupa pahala di kehidupan akhirat.[1] Dalam Al Quran banyak sekali ayat menerangkan tentang anjuran untuk bersedekah diantaranya Firman Allah Swt. Yaitu:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisiskan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) member sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak kami akan member kepadanya pahala yang besar.”(QS An nisaa[4]:114).
            Kebanyakan ulama setuju bahwa hokum dari sedekah adalah sunah. Namun hokum akan menjadi wajib apabila seorang itu bertemu dengan  orang yang sangat membutuhkan atau orang yang sangat kelaparan ketika membawa sejumlah makanan atupun uang. Dan juga wajib ketika seorang itu mempunyai janji atupun nadzar. Sedangkan diharamkanya sedekah adalah seorang yang menyedekahkan kepada orang lain yang kemudian sedekah itu digunakan untuk mabuk-mabukan atau judi.
            Sedangkan infaq mengeluarkan harta yang dalam penerapanya sebagai  pemberian yang diperuntukan untuk kepentingan seseorang ataupun lainya. Berbeda dengan sedekah, infaq cangkupanya lebih sempit dibandingkan dengan sedekah  karena sedekah adalah istilah yang mencakup tentang zakat, infaq dll. Rosulullah SAW bersabda:
            “Wahai anak adam, infakkanlah apa yang melebihi keperluanmu, itu lebih baik bagimu. Jika kamu menggegamnya, maka hal itu adalah buruk bagimu. Menyimpan sekedar keperluan tidaklah tercela. Pada waktu member infaq, dahulu kanlah orang yang yang menjadi tanggung jawabmu.”(HR Muslim-Misykat).
2.      Rukun-rukun sedekah dan infaq.
1.      Rukun sedekah:
a.       Orang yang member sedekah, syaratnya orang yang memliki benda itu dan berhak untuk mentassarufkan (memperedarkannya).[2]
b.      Orang yang menerima sedekah.
c.       Orang yang disedekahkan.
2.      Rukun Infaq:
a.       Sesuatu yang diinfakkan
b.      Orang yang menginfakkan
c.       Orang yang menerima infaq
d.      Ijab dan qobul.

3.      Hikmah Sedekah dan Infaq:
a.       Mendekatkan diri kepada Allah Swt.
b.      Memberikan pelajaran kepada kita bahwa tiada yang abadi didunia ini, kekayaan adalah amanat yang harus dijaga dan diperuntukan dijalan Allah Swt.
c.       Memberikan pelajaran kepada kita agar saling tolong menolong
d.      Menolak musibah
e.       Mendatangkan rezeki. Dll.



[1] Labib Mz dan Harmawati, Risalah Fiqih Islam. Bintang Usaha Jaya. Surabaya, 2006. 776.
[2] Labib Mz dan Harmawati, Risalah Fiqih Islam. Bintang Usaha Jaya. Surabaya, 2006. 779