1. Pengertian
perilaku Islami.
Perilaku
islami adalah suata tindakan, baik itu melalui ucapan maupun perbutan yang terpuji
serta baik yang sesuai dengan ajaran islam. Sehingga dapat dikatakan suatu
tindakan buruk yang tidak sesuai dengan ajaran islam berarti bukan mencerminkan
perilaku islami. Sedangkan orang yang berbuat baik namun orang lain memandang
seorang itu buruk tapi dalam pandangan islam hal itu baik maka dapat dikatakan
merupakan perilaku yang islami.
Orang
orang yang mempunyai perilaku baik yang sesuai dengan ajaran islam maka akan
senantiasa orang tersebut disukai oleh banyak orang, hanya segelintir yang iri
kepadanya. Dan tentunya nanti di hari akhir akan dikumpulkan bersama orang
orang baik pula.
Nabi
Muhammad SAW diutus Allah Swt, kebumi ini meprioritaskan tentang penyempurnaan
akhlak karena pada saat itu aklhak manusia kebanyakan jahiliyah. Dalam sabda
beliau:
“sesungguhnya
aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”.
2. Perilaku
Islami.
Dibawah
ini akan dipaparkan perilaku yang sepatutnya dilekatkan dalam jiwa muslim, karena
perilaku yang dimaksud betul-betul ajaran islam.
A. Beriman.
Manusia
sebagai makhluk fisikal-biologis, maklhuk social, intelektual-psikologis, dan
spiritual-teologis, dapat dikatakan sejahtera hidupnya apabila apa yang menjadi
kebutuhan jasmani ndan ruhani terpenuhi secara seimbang. Ia sejahtera hidupnya
jiga segala kebutuhan yang bersifat materi, kebutuhan jiwa yang berupa
kedamaian dan kesentosaan, kebutuhan social yang berwujud kesentosaan, dan
kebutuhan spiritual yang berupa ketentraman hati tercapai dengan seimbang.
Jadi
iman merupakan persoalan hati, bukan persoalan jiwa. Akan tetapi apabila hati
telah beriman, dalam arti segala yang disebutkan pilar keimanan telah menjadi
milik hati., maka jiwa yang berada diluar kotak hati bisa juga disebut beriman,
karena telah terpengaruhi oleh kemilaunya sinar keimanan yang terdapat dalam
kotak hati.
B. Tenang.
Kitab
suci Al-quran, dalam berbagai ayatnya, mejelaskan tentang jiwa manusia yang
meliputi tiga kategori.
1. An-nafs
al-ammarah, jiwa pada tingkatan ini merupakan keinginan rendah manusia yang
cenderung memerintah atau mendorong manusia berbuat keburukan. Pada umumnya
tindakan keburukan dilakukan oleh manusia disebabkan oleh dorongan atau
keinginan rendah ini.
2. An-nafs
al-lawwamah seperti disebut dalam surah Al-qiyamah (75): 2. Jiwa kategori ini
merupakan jiwa yang mencela natau menyalahkan diri sendiri. Jika orang
menyimpang dari jalan yang benar yang digariskan Allah Swt dalam agama,
seketika timbul rasa penyesalan dalam batinya.
3. An-nafs
al-muthma’innah (jiwa yang tenang). Disebutkan dalam surah Al-Fajr(89);27. Jiwa
inilah yang merupakan jiwa yang dikecualikan di dalam firman-NYA, inna an-nafsa
la’ammarat bi as-su’ illa ma rahima rabbi (sesungguhnya nafsu/keinginan rendah itu
pastilah memerintah berbuat hal yang buruk, kecuali jiwa yang dirohmati tuhanku).
C. Rela.
Kata
rela berasal dari bahasa arab, ridha. Artinya, senang, suka cita, atau puas
dalam menerima segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang apapun juga
adalah bagian dari pemberian Allaah Swt. Semuanya terjadi atas anugerah Allah.
Dalam
kehidupan ini, atas dasar keimanan yang mantap, terdapat orang-orang yang
jiwanya rela (puas) menerima segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang
apapun juga adalah pemberian dari Allah Swt. Semuanya terjadi atas anugerah
dari Allah
D. Sabar.
Jiwa
yang sabar adlah jiwa yang dimiiki oleh orang yang sabar. Dalam Al-Quran
Al-karim, Orang-orang sabar disebut ash-birin (orang yang sabar). Orang yang
bersabar adalah orang yang melakoni hidup dan kehidupan dengan jiwa yang tidak
tergesa gesa, gembira, dan senantiasa mengembalikannya kepada Allah yang
pahalanya tanpa batas.
E. Tawakal
Kata
tawakal berasal dari Tawakkala-yatawakkalu-tawakkulan, yakni tawakkal sebutan
yang benar seharusnya tawakkul, bukan tawakkal. Akan tetapi yang lebih
familiyar adalah tawakkal. Tawakkal dpat diartiakan menyandarkan segala urusan
ataupun masalah yang menyangkut segala aspek kehidupan ke pada Allah SWT saja.
F. Jujur
Jujur
artinya, lurus hati, tidak curang dan disegani. Jadi dapat dikatan jujur adalah
suatu tindakan yang dibenarkan sesuai dengan kenyataan yang ada, berbuat yang
sebenarnya, sesuai dengan kata hatinya,
G. Amanah
Kata
amanah berasal dari amina-ya’manu-amana-wa amanatan, yang secara harfiah
berarti aman. Jadi dapat dikatakan amanah adalah orang yang memegang suatu
kepercayaan dari orang lain dengan tidak mengingkari ataupun menyalahgunakanya
dalam berbagai hal yang dapat merusak kepercayaan dari orang yang member kepercayaan.
Jiwa
yang amanah menurut konsep Al Quran adalah jiwa yang tidak hanya jujur, tetapi
juga teguh untuk mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya, serta
menyadari segala amanah yang diterimanya berasal dari Allah Swt.[1]
H. Syukur